Menceritakan Laut Bercerita

 


Hari ini baru saja menyelesaikan membaca novel terberat yang pernah saya baca.

Bukan karena gaya bahasa, bukan karena kosakata, tetapi jalan cerita yang terlalu menyakitkan.

Novel karya Leila S. Chudori yang sedang viral ini dan akan di film kan, sukses membuat saya menghabiskan waktu dua bulan lebih untuk membereskan membaca sampai di halaman terakhir. 

Sebagai anak yang tumbuh dari kelurga yang hampir semua anggota keluarga nya adalah mantan aktivis, banyak moment yang amat sangat terasa seperti flash back ke masa-masa tahun 1994-2000an dimana saya masih SD di kala itu. 

Masih ingat ketika adik-adik dari Ibu saya di kala itu tergabung di forum pelajar dan mahasiswa di kota kami dan ikut banyak berjuang untuk membantu petani memperjuangkan tanah milik mereka yang "dipaksa" harus diserahkan kepada pemerintah. Persis seperti bagian ketika Laut bercerita tentang aksi Blangguan dan aksi bersama buruh. Lekat juga suatu malam ada dua orang pria berjaket yang mencari salah satu dari anggota keluarga kami ke rumah. Mengapa novel ini terasa real? Karena saya ada di masa itu. Masa-masa order baru yang sama seperti digambarkan Alex yang seperti aliran sungai besar yang tenang, tanpa keributan karena rakyat takut bersuara ditambah partai-partai politik sudah ditentukan. Masa-masa hampir tidak ada demokrasi, ekonomi hanya berputar di kroni para pejabat dan hukum bisa dibeli (which is relate sampai sekarang).

Bukan spoiler, tapi menurut saya klimaks dari novel ini ada di Chapter II. Yaitu dari point of view nya Asmara Jati, adik perempuan Laut. Dari halaman pertama chapter ini sampai akhir halaman benar-benar menguras air mata. Bagaimana fase denial hampir semua anggota keluarga dari aktivis yang diculik tapi tidak pernah pulang. Tentang mereka yang merasa bahwa anak, adik, suami, atau orang terkasih mereka suatu waktu akan kembali ke rumah mereka bahkan setelah bertahun-ahun berlalu. Tentang Asmara yang berusaha amat keras jadi orang satu-satunya yang masih berusaha waras disaat Bapak dan Ibu nya terlarut di dalam kepompong yang mereka berdua ciptakan agar kenangan tentang Laut masih mereka simpan dan menolak kemungkinan bahwa Laut memang sudah tidak ada di dunia ini. Tentang para survival aktivis yang diculik dan dipulangkan dengan tetapi dengan ancaman untuk bungkam. 

Yang mirisnya adalah ketika saya membaca bagian ucapan terima kasih penulis di part terakhir. Saya membaca bahwa salah satu narasumber, yang adalah survival aktivis yang diculik dan bisa pulang, yang dulu paling lantang menyuarakan tentang revolusi, adalah orang yang sama yang sekarang berdiri di belakang pemerintahan New Orba saat ini. Berdiri dan diberi jabatan oleh orang yang dulunya dipercaya adalah otak pelaku penculikan dan penghilangan paksa para aktivis di kejadian 1998. Yes, he joined the club!

Last, but not least. Saya apresiasi perjuangan para mahasiswa dan masyarakat kala itu yang menggulingkan kepemerintahan yang dikuasai selama 31 tahun. Kiranya ucapan terima kasih yang amat sangat banyak tak akan cukup diucapkan kepada para pahlawan reformasi dan keluarganya, terlebih kepada mereka yang dipaksa dihilangkan. Mungkin, jika tanpa perjuangan mereka kita tidak dapat menikmati keterbukaan dan kebebasan bersuara seperti sekarang dan akan berakhir seperti Korea Utara (Thanks God we're not). Dan marilah berharap bahwa kita tidak akan kembali ke masa-masa gelap itu.


Judul Novel: Laut Bercerita

Cetakan ke 112, tahun 2026. Kepustakaan Populer Gramedia.

Penulis: Leila S. Chudori

Ketebalan: 379 hlm, 13.5 x 20cm

Comments

Popular posts from this blog

THE COMMUNICATIVE APPROACH IN MAKING AN EFFECTIVE COMMUNICATION BETWEEN THE TEACHERS AND THE STUDENTS IN ENGLISH AS A FOREIGN LANGUAGE CLASS

Stuck in the Moment

TOP 10 2023 Broken Heart Song of the Year